Kenali Sistem Layering Saat Mendaki

Kerasnya medan dan perubahan temperatur yang ekstrem di area pegunungan merupakan tantangan yang harus dihadapi para pendaki. Karena itulah, Sobat Akasaka harus menyiapkan segala keperluan pendakian, mulai pakaian, perbekalan, hingga perlengkapan keselamatan.

Berbicara mengenai pakaian saat mendaki, mungkin banyak dari kita yang menyangka bahwa jaket, celana panjang, serta sepatu gunung sudah cukup untuk melindungi tubuh. Padahal, tubuh kita memerlukan lapisan pakaian pelindung agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan temperatur yang drastis di gunung.

Tata cara berpakaian saat mendaki tersebut lebih populer dengan istilah sistem layering. Umumnya, sistem layering di Indonesia terdiri dari tiga bagian, yakni:

 

Base Layer (Lapisan Dasar)


Mendaki - switchbacktravel.com

 

Base layer merupakan lapisan pakaian pertama yang Sobat Akasaka wajib kenakan sebelum mendaki. Saat memilih base layer, Sobat Akasaka perlu mempertimbangkan bahan pakaian yang tidak hanya mampu menyerap keringat, tetapi juga dapat membantu keringat agar dapat berpindah ke lapisan selanjutnya.

Base layer ini berguna untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil meski menghadapi perubahan temperatur yang ekstrem. Agar base layer dapat menjalankan tugasnya dengan baik, Sobat Akasaka baiknya memilih pakaian berbahan wol atau polyester yang mampu menjaga suhu tubuh tetap stabil. Hindari base layer berbahan katun sebab bahan ini hanya mampu menyerap keringat sehingga membuat tubuh rawan terpapar hipotermia.

Secara umum, base layer terdiri dari tiga kategori: lighweight, midweight, dan heavyweight. Base layer lightweight biasanya dipakai untuk aktivitas outdoor seperti panjat tebing, trekking, atau lari lintas alam. Sementara itu, midweight base layer biasa digunakan di medan pendakian bersuhu rendah. Berbeda dari dua tipe sebelumnya, heavyweight base layer umumnya diperuntukkan bagi para pendaki yang ingin menjelajahi medan bersalju atau bersuhu rendah.

 

Middle Layer (Lapisan Tengah)


Mendaki - besthiking.net

 

Setelah mengenakan base layer, saatnya Sobat Akasaka beralih ke bagian selanjutnya yakni memilih middle layer atau lapisan pakaian kedua. Saat memilih middle layer, Sobat Akasaka perlu memilih pakaian atau jaket yang mampu menjaga suhu tubuh agar tetap hangat meskipun berada di wilayah bersuhu rendah. Pakaian middle layer ini umumnya berupa jaket berbahan polyester, fleece, atau bulu angsa. Semakin tebal lapisannya, semakin tinggi pula tingkat kehangatannya.

Middle layar berbahan bulu angsa banyak dipilih karena memiliki tingkat kehangatan terbaik. Namun, Sobat Akasaka perlu memastikan agar pakaian mid layer berbahan bulu angsa tetap kering agar tubuh tetap hangat dan jaket tidak cepat rusak. Nah, jika Sobat Akasaka menginginkan mid layer yang lebih ringan tapi tetap hangat, jaket berbahan polyester atau nylon bisa jadi pilihan paling tepat.

 

Shell Layer (Lapisan Luar)


Mendaki - houdinisportswear.com

 

Lapisan pakaian paling luar disebut dengan shell layer. Sobat Akasaka perlu memastikan bahwa shell layer yang dipilih dapat menjaga tubuh dan lapisan pakaian tetap dalam kondisi prima. Untuk itu, Sobat Akasaka perlu memilih shell layer yang bersifat tahan air (waterproof) dan tahan angin (windproof), terlebih di tengah cuaca pegunungan yang cenderung sulit ditebak.

Jaket berbahan gore-tex bisa jadi pilihan yang tepat untuk Sobat Akasaka. Biasanya, jaket berbahan gore-tex memiliki sifat waterproof dan tetap memiliki sirkulasi udara yang baik (breathable), sehingga cocok dikenakan saat mendaki.

Pemilihan pakaian untuk sistem layering yang tepat dapat meminimalisasi risiko kesehatan akibat perubahan temperatur yang ekstrem di area pegunungan. Jadi, mulai sekarang, jangan kenakan pakaian yang asal hangat. Pilihlah pakaian yang mampu memudahkan mobilitas sekaligus melindungi tubuh dari cuaca serta medan pendakian yang berbahaya. Selamat berpetualang!

Leave a comment

All comments are moderated before being published