BEGINI CARA MEMPREDIKSI CUACA DARI TANDA-TANDA ALAM

Memprediksi Cuaca

Mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas dengan risiko yang tinggi, karena itu diperlukan bekal yang cukup sebelum memulai pendakian. Tidak hanya sebatas pada persediaan makanan dan minuman, Sobat Akasaka juga perlu membekali diri dengan berbagai informasi dan tips pendakian, seperti misalnya kondisi tubuh yang sehat dan fit, perbekalan navigasi, dan mempelajari kondisi gunung yang akan ditaklukkan.

Hal penting yang tak boleh Sobat Akasaka lewatkan adalah kemampuan untuk membaca atau memprediksi cuaca. Bekal ini akan membantu Sobat Akasaka untuk lebih waspada dan bisa memperkirakan peralatan juga perbekalan yang harus dibawa saat cuaca berubah ekstrem. Nah, perkembangan teknologi memang memudahkan Sobat Akasaka dalam memprediksi cuaca. Namun, tetap diperlukan pemahaman secara manual dari tanda-tanda alam. Caranya? Simak ulasannya ya!

Memperhatikan Jenis Awan dan Pergerakannya

Memperhatikan Jenis Awan Dan Pergerakannya

Ada berbagai jenis awan yang harus Sobat Akasaka ketahui, mulai dari awan mammatus, cumulonimbus, nimbus, cirrus, dan masih banyak lagi. Jika telah memahami jenis dan pergerakannya, Sobat Akasaka akan lebih mudah dalam membaca cuaca tanpa harus menggunakan alat bantu.

Umumnya, awan berwarna putih dengan lokasi yang tinggi menunjukkan bahwa cuaca akan cerah, sementara awan berwarna gelap menandakan bahwa hujan akan segera turun. Jika muncul awan cumulonimbus pada pagi hari dengan jumlah yang bertambah banyak di siang harinya, bisa dipastikan akan terjadi cuaca buruk. Sementara itu, munculnya awan mammatus menandakan bahwa akan terjadi badai dengan skala ringan hingga parah.

Mengamati Perilaku Hewan

Mengamati Perilaku Hewan

Tips pendakian dalam membaca cuaca dari tanda alam berikutnya adalah dengan mengamati perilaku hewan. Hewan disinyalir memiliki kepekaan yang lebih tinggi dan mampu mengetahui terjadinya perubahan cuaca. Misalnya saja, katak akan bersuara lebih nyaring ketika cuaca buruk akan menerpa. Burung pun akan terbang lebih rendah saat kondisi cuaca sedang tidak bersahabat.

Sementara itu, saat cuaca buruk akan datang, serangga penghisap bunga seperti lebah dan kupu-kupu tidak akan menunjukkan aktivitasnya di sekitar bunga. Semut pun akan membangun sarang yang lebih tinggi saat cuaca buruk.

Merahnya Warna Langit Juga Menjadi Pertanda

Merahnya Warna Langit Juga Menjadi Pertanda

Coba perhatikan warna langit saat matahari mulai terbenam. Apabila langit berwarna merah, artinya cuaca tetap cerah, karena warna ini muncul akibat tingginya tekanan udara disertai angin yang menggerakkan debu. Jika merahnya langit muncul saat matahari akan terbit, artinya cuaca sedang tidak baik, karena angin kering sudah bergerak dan tekanan udara sedang berubah semakin rendah. Tak lama lagi, badai akan segera datang.

Coba Rasakan ke Mana Angin Bertiup

Merasakan Kemana Arah Mata Angin Bertiup

Cara selanjutnya adalah dengan membaca arah angin bertiup. Kalau Sobat Akasaka tidak bisa merasakannya, coba lemparkan beberapa helai daun atau rumput ke udara, lalu amati bagaimana daun tersebut jatuh kembali ke tanah. Jika daun tertiup ke arah barat, artinya cuaca sedang baik. Sebaliknya, apabila daun tertiup ke timur, tandanya sedang ada gelombang udara yang mendekat.

Hirup Nafas Sedalam Mungkin

Hirup Nafas Sedalam Mungkin

Tak banyak disadari, bahwa nafas yang terhirup juga bisa membantu Sobat Akasaka dalam memprediksi cuaca. Cobalah berhenti sejenak dan ambillah nafas sedalam mungkin. Beberapa tumbuhan biasanya akan mengeluarkan bau yang khas ketika terjadi perbedaan tekanan udara. Bunga-bunga akan memunculkan aroma wangi sesaat sebelum turun hujan. Saat cuaca sedang lembap, Sobat Akasaka akan mampu mencium bau udara yang sedikit lebih kuat.

Itu tadi lima cara membaca cuaca dengan memanfaatkan tanda-tanda alam. Selalu perhatikan tips pendakian lain untuk menghindari terjadinya bahaya yang tidak diinginkan saat mendaki. Semoga bermanfaat!

Leave a comment

All comments are moderated before being published