KABAR DUKA: 3 PENDAKI GUNUNG TERBAIK DUNIA MENINGGAL MINGGU INI

Pekan ini mungkin bukan pekan yang paling buruk dalam sejarah mountaineering dunia, namun nampaknya bukan pekan yang paling baik juga. Dalam waktu sekitar 5 hari, setidaknya ada empat peristiwa paling signifikan yang tejadi kepada para pendaki gunung terbaik dunia. 4 peristiwa ini akan menjadi warna baru bagi sejarah dunia mountaineering secara global.

Peristiwa pertama tentu saja adalah pencapaian winter first ascent K2 oleh 10 orang sherpa dari Nepal yang terjadi pada tanggal 16 Januari yang lalu. Setelah 30 tahun upaya yang luar biasa dengan kematian banyak pendaki gunung, pencapaian puncak K2 di musim dingin benar-benar menjadi sebuah kado mountaineering yang sangat istimewa pada awal tahun 2021 ini.

Selain K2 winter first ascent, ada juga 3 peristiwa lain yang lebih tragis. Peristiwa ini adalah tentang kematian 3 pendaki terbaik dunia yang jaraknya juga sangat berdekatan antara satu sama lain. Dua pendaki tewas dalam musibah, sementara yang satu lagi tewas lantaran usianya yang memang sudah tua.

Nah, siapa sajakah pendaki gunung terbaik dunia yang meninggal dalam minggu ini? Yuk, baca informasi selengkapnya di bawah ini.

3 Pendaki Gunung Terbaik Dunia yang Meninggal Dunia Minggu Ini dan Kilas Balik Jejak Mereka dalam Mountaineering

Bersamaan dengan tercapainya puncak gunung K2 pada musim dingin oleh 10 orang Sherpa Nepal, Spanyol kehilangan salah satu alpinist terbaik mereka. Sergio Mingote, yang juga menjadi salah satu pendaki yang ikut mencoba keberuntungan mendaki K2 pada musim tahun ini, tewas setelah terjatuh dari Camp 2 di jalur Abruzzi Spur, gunung K2.

Dua hari setelah kematian Sergio, kabar buruk datang lagi dari Pastore Peak, yang jaraknya tidak begitu jauh dari K2. Kali ini Alex Goldfarb yang merupakan pendaki gunung blasteran Rusia-Amerika, juga tewas setelahnya dinyatakan hilang selama dua hari.

Kemudian kemarin, tanggal 19 Januari 2021, salah satu legenda mountaineering dari Italia juga menambah panjang kabar duka ini. Cesare Maestri, pendaki gunung legendaris yang terkenal dengan Rute Compressor di gunung Cerro Torre, Patagonia, juga meninggal dunia. Cesare Maestri berusia 91 tahun saat terakhir kali menghembuskan napasnya.

Nah, bagaimanakah jejak ketiga pendaki gunung ini dalam mountaineering? Apa yang dapat Sobat Akasaka pelajari dari sosok-sosok mereka?

Berikut ulasan selengkapnya.

Profil Pendaki Gunung Sergio Mingote

Sergio Mingote adalah pendaki gunung terkenal di dunia, ia berasal dari Spanyol. Seperti mungkin yang kamu ketahui, Spanyol adalah rumah bagi banyak pendaki gunung kelas dunia dengan prestasi di atas delapan ribu meter yang mengesankan. Beberapa nama yang familiar misalnya adalah; Edurne Pasaban, Alberto Inurrategi, Juanito Oiarzabal, Ferran Latorre, Carlos Soria Fontan, Aracelli Segarra, Silvia Vidal, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mingote lahir pada tahun 1971 dan menjadi salah satu pendaki gunung negeri Catalan yang cukup produktif. Ia seperti yang banyak diceritakan, telah mendaki tujuh puncak gunung delapan ribu meter di dunia  yang semuanya ia lakukan tanpa tabung oksigen. Gunung K2 kemarin di mana ia terbunuh, juga pernah dipuncakinya pada tahun 2018.

Gunung delapan ribu meter pertama yang berhasil dipuncaki oleh Sergio Mingote adalah Everest yang ia daki pada tahun 2001 melalu North Col atau Tibet. Pencapaian di Everest yang merupakan gunung tertinggi di dunia ini kemudian digandakan kembali oleh Mingote pada tahun 2003 dengan mendakinya kembali melalui South Col atau sisi Nepal.

Tahun 2018, Mingote mengumumkan project-nya untuk mendaki 14 puncak gunung tertinggi di dunia yang biasa dikenal dengan istilah The Crown of Himalaya atau Fourteen Eight Thousanders dalam waktu 1000 hari. Dan pada tahun 2018 itu sendiri, Sergio Mingote menambahkan koleksinya dengan berhasil mendaki puncak Broad Peak, K2 dan juga Manaslu.

Tahun 2019 Mingote kemudian berhasil pula menambahkan koleksinya Mahkota Himalaya-nya dengan memuncaki Nanga Parbat, Lhotse, Gasherbrum II dan juga Dhaulagiri. Semua pendakiannya ini dilakukan Mingote tanpa menggunakan tabung oksigen.

BACA JUGA:

Kematian Sergio Mingote di Gunung K2

Pada musim dingin tahun 2020/2021 ini, Sergio Mingote memutuskan untuk ambil bagian dalam upaya pendakian musim dingin di K2, gunung paling mematikan di dunia. Dalam ekspedisinya di K2, Mingote ber-partner dengan beberapa pendaki terkenal di dunia lainnya seperti; Alex Gavan, Tamara Lunger, dan dua orang pendaki gunung tinggi lainnya dari Polandia.

Dalam aklimatisasi yang ia lakukan, Sergio dan timnya sudah berhasil mencapai Camp 3 gunung K2 sebelum tim Sherpa dari Nepal melalukan serangan menuju puncak yang berbuah kesuksesan besar. Dari Camp 3, Mingote kemudian memutuskan untuk turun ke base camp kembali dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pemuncakan.

Setelah tiba di Camp 1, entah apa yang terjadi sebenarnya, tiba-tiba Mingote terjatuh hampir sejauh setengah kilometer berdasarkan data GPS yang dibawanya. Upaya penyelamatan dilakukan sesegera mungkin, namun pada akhirnya, nyawa Mingote tidak tertolong juga.

Profil  Pendaki Gunung Alex Goldfarb

Dari gunung K2, Pastore Peak tidaklah begitu jauh. Dan gunung ini dianggap sebagai gunung yang mudah untuk didaki, jika itu dilakukan pada musim pendakian normal. Namun di musim dingin dengan cuaca beku yang bisa melorot hingga minus 50 derajat celcius, Pastore Peak adalah tempat yang berbahaya, bahkan untuk pendaki tebaik dunia sekali pun.

Tidak banyak yang bisa diketahui mengenai jejak pendakian Alex Goldfarb. Namun, dalam pendakian yang membunuhnya kali ini, ia diketahui sedang mempersiapkan diri untuk mencoba mendaki gunung Broad Peak pada musim dingin. Dan untuk keperluan mencapai puncak Broad Peak yang juga adalah salah satu gunung delapan ribu meter tertinggi di dunia, Alex bersama dengan rekannya dari Hungaria, Zoltan Szlanko, melakukan aklimatisasi dengan mendaki Pastore Peak.

Malang bagi Alex, ia kemudian ditemukan tewas setelah dua hari menghilang dan hilang kontak. Saat Zoltan kembali ke base camp, Alex memutuskan untuk terus maju secara solo di Pastore Peak. Tanpa ia ketahui, gunung itu telah menanti untuk memetik jiwanya.

Broad Peak yang menjadi tujuan ekspedisi Alex dan Zoltan, tentu saja bukan gunung yang mudah. Gunung ini sudah cukup banyak membunuh para pendaki gunung terbaik dunia lainnya. Bahkan pada peristiwa winter first ascent-nya yang terjadi pada tahun 2013, Broad Peak memakan korban 2 pendaki musim dingin terbaik dari Polandia; Maciej Berbeka dan Tomasz Kowalski.

CERITAKAN KISAH PETUALANGANMU DAN HASILKAN UANG JUTAAN RUPIAH DALAM PROGRAM AKSAKA AFFILIATE MARKETING DISINI

Profil Pendaki Gunung Cesare Maestri

Tentu tidak semua pendaki gunung dari Italia berhasil mencapai usia tua seperti Maestri ini, namun ini menjadi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan ketika fakta menunjukkan bahwa setengah pendaki gunung terbaik lainnya tewas di atas gunung. Dan Cesaro Maestri, seperti halnya pula legenda alpinis Italia lainnya semacam Walter Bonatti dan Riccardo Cassin, berhasil mencapai usia yang cukup panjang sebelum kematian menjemput mereka.

Cesaro Maestri dikenal sebagai Laba-Laba dari Dolomites sejak pertama kali ia memasuki dunia pendakian gunung profesional. Ia lahir pada tahun 1929 di Trento, Italia, dan telah tumbuh menjadi pendaki gunung dunia yang bepengaruh mulai tahun 1950-an.

Maestri membuat ratusan first ascent sepanjang karirnya di atas gunung dan tebing-tebing. Ia pernah memanjat punggungan Barat Daya Matterhorn pada musim dingin, melintasi Sollider Route di Civetta, dan juga menyelesaikan rute Conforto The Solda di Marmolada. Selain Paul Preuss yang terkenal sebagai bapak free solo dunia, Cesaro Maestri mungkin adalah salah satu pendaki Italia generasi pertama yang mengikuti jejaknya.

BACA JUGA:

Pendakian Cesare Maestri di Cerro Torre

Di antara demikian banyak pendakian yang dilakukan oleh Maestri, rasanya tidak ada yang dapat mengalahkan apa yang ia lakukan di Cerro Torre, Patagonia. Di tempat itu, Maestri dalam dua kali ekspedisi yang ia lakukan, telah menggoreskan sebuah catatan yang kontroversial bahkan hingga hari ini.

Kontroversi pertama terjadi pada tahun 1959 ketika ia bersama dengan Toni Egger mendaki Cerro Torre dan mengklaim berhasil mencapai puncaknya sebagai first ascent. Klaim ini menjadi sangat ironis karena bersamaan dengan pendakian itu, Toni Egger tewas. Menurut keterangan Maestri; disebabkan oleh longsoran saat mereka dalam perjalanan turun.

Tahun 1970, Cesaro Maestri kembali lagi ke Cerro Torre dan membuat kontroversi yang lebih besar. Kali ini bersama dengan Pietro Pidi, Ezio Alimonta, Daniele Angeli, Claudio Baldessari dan, Carlo Clauss, ia membuat sebuah rute pendakian hingga ke bawah puncak jamur Cerro Torre. Dalam pendakian itu, Maestri dan timnya menanam sekitar 350 baut ke dinding Cerro Torre menggunakan sebuah mesin kompresor bertenaga bensin.

Untuk mengebor dinding menara Patagonia itu, Maestri dan timnya membawa sebuah compressor seberat hampir 135 kilogram. Saat perjalanan turun, kompresor ini ditinggalkan tepat sekitar 100 meter di bawah puncak tertinggi gunung Cerro Torre. Dan atas sebab inilah kemudian, rute yang digunakan oleh Maestri dan timnya disebut pula dengan sebutan; The Compressor Route.

Compressor Route membawa buntut yang panjang dan mengundang kecaman dari banyak orang. Pendaki gunung terbaik di dunia lainnya seperti Reinhold Messner, Kelly Cordes, dan banyak yang lainnya mengecam keras tindakan Maestri. Sebagian besar dari mereka bahkan bersepakat bahwa sebenarnya Cesare Maestri dan timnya, tidaklah berhasil mencapai puncak dalam dua kali pendakiannya di Cerro Torre.

Sengketa Compressor Route, kontroversi first ascent Cerro Torre, kemelut kematian Toni Egger, bahkan sampai kontroversi pendakian first free ascent David Lama di Cerro Torre, dapat kamu baca pula dalam buku Dunia Batas Langit yang link downloadnya ada di bawah ini.

***

pendaki gunung hilang

DAPATKAN BUKU-BUKU POPULER TENTANG MOUNTAINEERING PALING LENGKAP DI INDONESIA KARYA ANTON SUJARWO DISINI

 

Notes:

Artikel ini ditulis oleh Anton Sujarwo, kontributor di Akasaka Outdoor sekaligus juga penulis beberapa buku mountaineering populer di Indonesia. Tulisan lain dari Anton Sujarwo dapat pula dibaca di:

Leave a comment

All comments are moderated before being published