TERNYATA INI 5 FAKTA PENYEBAB TEWASNYA 3 PENDAKI GUNUNG BAWAKARAENG

Gunung Bawakaraeng

Rundung kabar duka kembali menyelimuti dunia pendakian gunung tanah air. Tiga hari yang lalu, bersamaan dengan perayaan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2021, tiga orang pendaki tewas di gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan. Ini adalah duka mendalam yang sekaligus memukul banyak orang terkait aktivitas pendakian gunung di Indonesia.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada tiga orang pendaki yang tewas di gunung Bawakaraeng tersebut?

Berikut ulasan lengkapnya versi Akasaka Journal.

Beberapa Fakta dan Opini Penyebab Tewasnya 3 Pendaki Gunung Bawakaraeng

Gunung Bawakaraeng

Musibah dalam pendakian gunung pada dasarnya adalah sesuatu yang lumrah dan umum terjadi di gunung mana saja. Pendaki yang terjatuh, tersasar, hilang, bahkan meninggal dunia, merupakan beberapa risiko yang memang telah menjadi konsekuensi dari aktivitas mountaineering atau pendakian gunung.

Namun hal ini menjadi tidak seimbang kemudian, ketika musibah tersebut pada dasarnya dapat dihindari oleh para pendaki. Nah, ini pula nampaknya yang terjadi pada para pendaki gunung Bawakaraeng beberapa waktu lalu. Disinyalir ada beberapa hal yang tidak dipatuhi yang justru kemudian membawa mereka pada tragedi.

Meskipun bukan gunung tertinggi di Indonesia, gunung Bawakaraeng adalah gunung dengan pesona yang luar biasa. Layaknya Gunung Gede Pangrango bagi ibu kota Jakarta, gunung Bawakaraeng juga sangat istimewa bagi berbagai kota besar di Sulawesi Selatan seperti Makassar dan sekitarnya.

Dengan tingkat kunjungan yang tinggi, gunung ini juga menjadi saksi bagi banyak musibah dan tragedi terkait para aktivitas para pendaki. Kematian di gunung Bawakaraeng yang menimpa tiga orang pendaki pada pendakian perayaan peringatan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 2021 kemarin, adalah salah satu contohnya.

Terkait kejadian yang menyedihkan ini, Akasaka Journal setidaknya merangkum beberapa opini dan fakta yang dianggap menjadi penyebab musibah tersebut terjadi.

BACA PULA:

Ketidak-patuhan Para Pendaki pada Aturan

Gunung Bawakaraeng

Dalam beberapa media online, dilaporkan setidaknya ada sekitar 812 orang pendaki yang mendaki gunung Bawakaraeng dengan maksud merayakan upacara bendera di atasnya. Jumlah ini pada dasarnya di luar batas daya tampung gunung, terutama jika dikaitkan pada prosedur keamanan dan kontrol aktivitas pendakian.

Dengan memperkirakan jumlah yang sangat besar seperti ini, petugas jalur pendakian gunung Bawakaraeng kemudian melakukan pembatasan. Namun jumlah pendaki yang membludak tidak mampu ditahan oleh para petugas yang jumlahnya sendiri tidak seberapa. Apalagi banyak di antara para pendaki yang kemudian menggunakan jalur-jalur yang tidak dapat dipantau secara langsung oleh petugas.

Menerobos jalur pendakian yang ditutup tentu saja bukan cara yang bijaksana untuk dilakukan, apalagi jika hal tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan dan perlengkapan yang memadai.

Menurut kepala BASARNAS Sulawesi Selatan dalam wawancara di salah satu stasiun TV, para pendaki sebenarnya dilarang untuk mendaki dan mengadakan kegiatan di atas gunung. Sayangnya banyak di antara para pendaki tersebut yang tidak mematuhi imbauan dan memilih terus untuk melakukan pendakian hingga ke puncak gunung Bawakaraeng.

Badai dan Suhu Gunung Bawakaraeng yang Ektrim

Gunung Bawakaraeng

Banyak orang mengatakan bahwa salah satu misteri gunung Bawakaraeng adalah tentang suhunya yang sangat dingin dan intensitas badai yang cukup sering terjadi. Di gunung ini. seringkali cuaca tidak dapat diprediksi. Pendakian yang cerah sekali pun dari base camp, bisa saja disambut oleh badai pada saat di atas gunung.

Nah, ini pula yang nampaknya terjadi pada saat pendakian pada tanggal 17 Agustus 2021 kemarin. Cuaca buruk disertai badai menjadi selimut para pendaki sepanjang malam. Bagi mereka yang mempersiapkan diri dengan baik, kondisi ini tentu tidak menjadi masalah.

Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang tidak mempersiapkan diri mereka dengan baik?

Paparan suhu gunung yang dingin disertai  minimnya perlindungan yang memadai membuat beberapa pendaki menjadi kolaps. Suhu tubuh yang tak mampu beradaptasi menurun dengan drastis, membawa para penderitanya dalam kondisi hipotermia.

Suhu gunung Bawakaraeng dan badai yang terjadi di puncaknya ini juga yang diduga sebagai salah satu penyebab banyaknya musibah yang terjadi. Oleh karena itulah kemudian, selain tiga orang pendaki yang meninggal dunia, cukup banyak pula pendaki lain yang mengalami hipotermia.

Kurangnya Persiapan Para Pendaki

Gunung Bawakaraeng

Ini mungkin adalah bagian yang paling vital dan menjadi keprihatinan banyak orang. Ada sangat banyak sekali pendaki gunung di Indonesia yang melakukan pendakian hanya bermodalkan kenekatan semata. Mereka pada kondisi yang ekstrim, justru tidak memiliki persiapan apa-apa selain euphoria ingin meraih puncak dan berfoto di atasnya.

Berdasarkan keterangan kepala BASARNAS Sulawesi Selatan, ini juga yang menjadi salah satu penyebab tewasnya tiga orang pendaki di gunung Bawakaraeng dalam upaya perayaan 17 Agustus tahun ini. Mereka mendaki ke gunung dengan suhu yang cukup ektsrim tanpa mempersiapkan diri dengan baik.

Masih menurut kepala BASARNAS Sulawesi Selatan, Bapak Djunaidi, para pendaki yang menjadi korban ini bahkan tidak membawa perlengkapan yang paling esensial seperti tenda, alat memasak dan berbagai alat perlindungan diri lainnya. Untuk jumlah 8 orang dalam satu tim, mereka bahkan tidak membawa persediaan logistik yang cukup.

Sangat disesalkan, bukan?

Sementara sebagai pendaki gunung dan petualang, kamu tentu sudah sangat paham bahwa persiapan yang baik adalah salah satu bagian sangat penting dalam pendakian di gunung mana pun.

Kerjasama Tim yang Kurang Solid dan Pengalaman yang Minim

Gunung Bawakaraeng

Berapa pun jumlah pendaki yang melakukan pendakian, mereka diharuskan untuk membangun kerjasama yang erat. Tanpa kerjasama yang baik, perjalanan sebuah pendakian akan lebih banyak membawa kepada kegagalan.

Dengan jumlah pendaki yang mencapai delapan orang, para pendaki seharusnya mampu menjadikan diri mereka sebagai tim pendaki yang kuat. Musibah yang mengenaskan dan merenggut tiga nyawa mungkin saja dapat dihindari jika pendakian dilakukan secara rapi dan dibawah salah satu komando pendaki yang lebih berpengalaman.

Gunung mana pun tidak layak untuk diremehkan, bahkan untuk gunung dengan ketinggian yang tidak seberapa dan jalur pendakian yang paling mudah sekali pun.

Dengan jalur pendakian gunung Bawakaraeng yang memiliki ketinggian di atas 2.500 meter di atas permukaan laut dan jumlah pos pendakian yang banyak, gunung ini sama sekali tidak layak dianggap remeh. Walaupun tentu saja jumlah orang yang mampu mendakinya bisa hingga puluhan ribu setiap tahunnya.

Over Kapasitas dan Makan Korban Hampir Setiap Tahun

Gunung Bawakaraeng

Kamu tahu berapa jumlah pendaki gunung yang merayakan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di gunung Bawakaraeng pada tahun lalu?

15 ribu orang!

Benar, ada lima belas ribu orang yang berusaha melakukan selebrasi HUT RI ke-75 pada tahun 2020. Ini tentu saja  adalah jumlah yang sangat banyak. Gunung bagaimana pun besar dan agungnya, tentu saja memiliki daya tampung dan kapasitas. Dan jika kapasitas ini meluap, akan selalu ada risiko yang mengikutinya.

Gunung Lompobattang, gunung Latimojong dan gunung-gunung lain di Sulawesi Selatan, memang telah menjadi tujuan pendakian yang populer. Tapi tetap tidak dapat menyamai jumlah kunjungan ke gunung Bawakaraeng. Menariknya pada tahun lalu dengan jumlah pendaki hingga 15.000 orang, hanya ada sartu korban meninggal dunia dengan penyebab yang sama, yakni hipotermia.

Ironis kemudian dengan jumlah yang lebih sedikit pada tahun ini, jumlah korban justru bertambah menjadi tiga kali lipat.

Melihat animo masyarakat yang semakin tinggi dalam wisata pendakian gunung, rangers dan petugas di setiap pos pendakian pun harus mendapat perhatian yang serius. Jumlah mereka, sarana mereka dan alat pendukung mereka harus mampu mengakomodasi tugas mereka yang  tidak mudah.

BACA JUGA:

Gunung Bawakaraeng

Nah, itu adalah beberapa hal yang disinyalir sebagai penyebab musibah yang menyebabkan meninggalnya pendaki gunung Bawakaraeng pada 17 Agustus 2021 ini. Kita berharap, semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari.

Sebagai saran terakhir untuk kamu yang ingin melakukan pendakian ke gunung Bawakaraeng atau ke gunung mana pun, bekalilah dirimu dengan pengetahuan dan perlengkapan yang memadai. Nah, untuk perlengkapannya sendiri, produk Akasaka Outdoor dapat menjadi rekomendasi terbaik buat kamu.

Ketangguhan produk di berbagai medan liar khas Indonesia yang telag terbukti, desain yang super nyaman dan desain yang up to date, Akasaka Outdoor akan membuat petualangan dan pendakian kamu semakin istimewa dan tidak terlupakan di gunung mana pun.

YUK, DAPATKAN PRODUK TERBAIK AKASAKA OUTDOOR DISINI

Baca Ini Juga Yuk!

9 FAKTA MENAKJUBKAN TENTANG PEGUNUNGAN URAL YANG JARANG DIKETAHUI
9 FAKTA MENAKJUBKAN TENTANG PEGUNUNGAN URAL YANG JARANG DIKETAHUI
Dibandingkan pegunungan populer di dunia lainnya, Pegunungan Uralmemang tidak begitu dikenal. Akan tetapi, pegunungan ini juga tidak kalah istimewa dengan pegunungan-pegunungan lainnya. Di Pegunung...
Read More
INI 7 PEGUNUNGAN DI PULAU SUMATERA DENGAN KEINDAHAN YANG LUAR BIASA
INI 7 PEGUNUNGAN DI PULAU SUMATERA DENGAN KEINDAHAN YANG LUAR BIASA
Bukit Barisan adalah raksasa pegunungan di Pulau Sumatera dan menjadi fokus utama segala jenis aktivitas petualangan di pulau Andalas. Di atas Bukit Barisan, berdiri puluhan gunung-gunung spektakul...
Read More
WOW! INI 10 PUNCAK PEGUNUNGAN ALPEN YANG PALING SULIT DITAKLUKKAN
WOW! INI 10 PUNCAK PEGUNUNGAN ALPEN YANG PALING SULIT DITAKLUKKAN
Asal mula aktivitas mountaineering adalah dari Pegunungan Alpen di Eropa. Di wilayah ini, membentang teritori pegunungan yang sangat memukau untuk dijelajahi. Dari Pegunungan Alpen Swiss hingga peg...
Read More

Leave a comment

All comments are moderated before being published