SERINGNYA PENDAKI GUNUNG HILANG TERNYATA DISEBABKAN OLEH 7 HAL INI

Pendaki gunung hilang, tewas, terjatuh, atau pun mengalami kejadian tragis tak terduga lainnya di atas gunung, adalah sebuah cerita klasik dalam dunia mountaineering. Sepanjang sejarah aktivitas pendakian gunung bermula, kisah semacam itu sudah ada. Akan tetapi pertanyaannya adalah; Apa ,sih, penyebab sebenarnya berbagai peristiwa mengenaskan tersebut?

Nah, Sobat Akasaka, dalam artikel kali ini akan dibahas berbagai penyebab yang paling sering terjadi pada peristiwa hilangnya seorang pendaki di atas gunung. Untuk lebih jelasnya, yuk, simak uraian lengkapnya berikut ini.

Pendaki Gunung Hilang dan Beberapa Penyebabnya yang Paling Sering Terjadi

pendaki gunung hilang

Sebagai salah satu kegiatan dengan risiko yang tinggi, tentu saja mendaki gunung memiliki banyak sekali konsekuensi yang harus siap untuk dihadapi. Salah satu dari konsekuensi tersebut adalah hilangnya orientasi selama pendakian yang kemudian mengakibatkan seorang pendaki mengalami lost atau menghilang. Dan sedihnya, ini adalah salah satu kasus yang cukup sering terjadi di atas gunung.

Kamu pasti tahu, kan, selama bulan Februari tahun 2021 ini publik mountaineering dunia diramaikan dengan hilangnya 3 pendaki di gunung K2 yang dikenal juga sebagai gunung paling sulit di dunia? Di Indonesia sendiri bahkan, kasus dan kisah pendaki gunung hilang juga seringkali menyita banyak perhatian.

Ada banyak hal menarik yang kemudian dituding sebagai penyebab hilangnya seorang pendaki gunung. Mulai dari kurangnya persiapan dan pengalaman, menonjolnya sikap egoisme dan kesombongan, hingga pada sesuatu yang lebih unik, yakni mengkaitkan hilangnya seorang pendaki gunung yang ada hubungannya dengan keterlibatan makhluk gaib.

Berbagai penyebab ini tentu saja menarik untuk dicermati bersama. Namun kemudian pertanyaan tetap mengerucut pada sesuatu yang lebih nyata mengenai; Apa, sih, penyebab sebenarnya dari rentetan kejadian tersebut?

Nah, dari sudut pandang yang lebih luas, setidaknya 7 hal berikut inilah yang paling sering menjadi penyebab hilangnya seorang pendaki gunung dalam petualangan mereka.

Apa saja itu?

Ini dia daftarnya.

Terlalu Obsesi untuk Melewati Batas Kemampuan

pendaki gunung hilang

Di luar keganasan alam pegunungan yang memang terkenal buas dan liar, penyebab utama dari banyaknya pendaki hilang hari ini adalah karena dorongan dalam diri mereka sendiri. Dorongan ini adalah keinginan untuk mencapai sesuatu yang secara ambisius jauh melewati ambang batas kemampuan dirinya sendiri.

Apa contoh yang dapat disebutkan untuk menjelaskan penyebab yang pertama ini?

Jika kamu mengikuti kabar mountaineering yang ditulis lengkap di blog www.akasakaoutdoor.co.id, kamu akan tahu bahwa beberapa pendaki gunung terbaik dunia berusaha mencetak prestasi yang terlihat mustahil dalam ukuran manusia. Setidaknya pada masa  dimana mereka berusaha melakukannya. Dan upaya mencetak prestasi yang mustahil inilah kemudian yang membuat mereka menghilang selamanya.

Tahun 1924 ketika George Mallory dan Andrew Irvine hilang di Everest adalah masa dimana kemampuan manusia belum memgakomodasi untuk bisa bertahan hidup di atas ketinggian 8.000 meter. Upaya Mallory dan Irvine untuk melewati kemustahilan itulah kemudian yang membawa mereka pada hilangnya diri mereka sendiri di atas gunung tertinggi di dunia.

pendaki gunung hilang

Atau jika kamu membaca buku Maut Di Gunung Terakhir yang dapat kamu download di webstore Akasaka Outdoor, kemudian kamu menyimak hilangnya Jean Christophe Lafaille di Gunung Makalu pada tahun 2006. Kamu mungkin akan berkesimpulan pula bahwa hilangnya Lafaille di atas puncak Makalu adalah karena obsesinya yang terlampau berani untuk mendaki gunung tertinggi kelima di dunia itu secara solo dan pada musim dingin.

Kisah pendaki gunung hilang dan obsesi mereka untuk melakukan sesuatu yang terlampau jauh di atas kemampuan manusia secara umum, adalah penyebab utama yang pertama mengapa para pendaki gunung dunia menghilang dalam langkah dan petualangan mereka.

BACA JUGA:

Miss-Orientasi atau Kehilangan Arah

pendaki gunung hilang

Sobat Akasaka pernah mendaki gunung Semeru, kan?

Nah, dengan puncak berbentuk kerucut sempurna seperti Mahameru, peluang untuk lost orientasi atau kehilangan arah menjadi lebih besar, terutama saat perjalanan turun. Ketika mencapai puncak kamu akan bergembira, larut dalam euphoria, dan ketika kamu ingin turun kembali dari puncak, kamu akan melihat semuanya sama, sehingga kamu lupa darimana persisnya jalan yang kamu gunakan untuk mencapai puncak sebelumnya.

Pendaki gunung hilang di Indonesia, khususnya di gunung Semeru, yang menghilang di areal Blank 75 dan sebagainya, sebagian besar disebabkan oleh hal ini; miss-orientasi atau kehilangan arah saat perjalanan turun. Hal ini semakin diperparah lagi jika kamu mendaki tanpa guide yang sudah faham gunung Semeru. Atau kamu tidak memberi penanda yang signifikan baik secara warna dan bentuk untuk menandai rute yang kamu lewati sebelumnya.

pendaki gunung hilang

Miss-orientasi pada saat menjelajah hutan akan membuat kamu tersesat. Namun, akan berpeluang untuk kembali keluar dengan selamat jika memiliki kemampuan survival yang baik.

Namun di atas gunung, risiko ini akan berubah menjadi berkali-kali lipat. Kamu tidak hanya akan menghadapi kebingungan mencari jalan pulang, tapi juga cuaca dingin yang menusuk tulang, jurang lapar yang menganga, dan tentu saja berbagai risiko potensial lainnya.

Kurangnya Persiapan untuk Mendaki

pendaki gunung hilang

Dibandingkan bertutur tentang alam gaib, kurangnya persiapan sejujurnya jauh lebih berperan sebagai penyebab dalam berbagai kisah nyata pendaki gunung yang tersesat. Kurangnya persiapan meliputi banyak hal, bisa dalam bentuk kurang persiapan fisik, kurang persiapan perbekalan, atau pada kondisi yang paling umum; kurangnya persiapan dalam bentuk pengetahuan dan wawasan.

Cerita pendaki gunung hilang adalah sesuatu yang lumrah, dan sekali lagi, itu adalah sesuatu yang cukup sering terjadi di banyak kesempatan. Namun di Indonesia, cerita ini akan menjadi sesuatu yang menarik untuk ditelisik lebih jauh. Karena jika dapat dipersentasekan, hampir 70-80% para pendaki gunung yang hilang di gunung di Indonesia, memiki kaitan erat dengan kurangnya persiapan mereka.

pendaki gunung hilang

Kamu masih ingat, kan, cerita pendaki gunung yang hilang di gunung Raung, yang kemudian ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa?

Untuk mendaki gunung Raung yang terkenal teknis, pendaki itu hanya membekali dirinya dengan sandal jepit, celana jeans, jaket tipis, dan tanpa perlengkapan lengkap. Dan kamu tahu sendiri, itu tentu saja sangat tidak cukup, bukan?

Atau pada kasus yang lain ketika kamu mendengar berita pendaki gunung hilang di Indonesia, maka ada banyak sekali yang kemudian terindikasi mendaki dengan persiapan ala kadarnya. Mulai dari alat perlindungan diri yang minimal, logistik yang sedikit, atau bahkan tidak membawa alat navigasi sama sekali.

Terlalu Percaya Diri atau Over Confidence

pendaki gunung hilang

Percaya diri tentu saja adalah sesuatu yang bagus, tapi jika porsinya berlebihan, itu bisa saja akan membunuhmu. Begitu juga dalam pendakian gunung, kepercayaan diri yang berlebihan akan mengantarkanmu pada sebuah tindakan-tindakan yang kadang justru akan menjerumuskan dirimu sendiri dalam bahaya yang lebih besar.

Kira-kira kamu bisa membayangkan bagaimana sebuah over confidence dapat membuatmu celaka di atas gunung?

Ketika merasa dalam kondisi yang sangat prima, kemudian kamu menilai risiko gunung terlalu jauh di bawah kemampuanmu, kamu cenderung akan mengambil tindakan yang sebenarnya tidak sebaiknya kamu lakukan.

pendaki gunung hilang

Misalnya kamu merasa dapat mendaki dengan cepat dan yakin dengan jalur yang ambil kamu tidak akan salah. Pemikiran ini kemudian mendorongmu untuk melakukan pendakian tergesa yang akhirnya justru membuatmu salah mengambil rute.

Dalam banyak kisah pendaki gunung hilang, over confidence erat kaitannya dengan narsisme individualisme yang salah arah. Gunung sama sekali bukan arena dimana kamu dapat menunjukkan betapa luar biasanya dirimu. Keberhasilan kamu dalam mencapai puncak gunung, berdiri di atasnya dengan takjub, atau melintasi rutenya dengan cepat, adalah lantaran kemurahan hati Sang Alam itu sendiri yang mengizinkan kamu melakukannya.

Jadi, hati-hati dengan rasa percaya diri yang terlalu berlebihan, ya.

Big Group Bring Big Trouble

pendaki gunung hilang

Mendaki dalam rombongan besar sebenarnya tidak otomatis membuat pendakianmu akan terjamin lebih aman. Bahkan pada banyak kejadian, pendaki hilang tidak ditemukan atau pun bisa ditemukan kembali dalam kondisi yang beragam, umumnya berasal dari pendakian dengan jumlah rombongan yang banyak.

Lantas, mengapa mendaki dalam group besar riskan dengan risiko pendaki hilang?

Setidaknya ada beberapa alasan paling signifikan yang mendasari hal ini. Beberapa alasan tersebut adalah sebagai berikut;

  • Group besar akan membutuhkan pengawasan yang lebih luas, dan itu tidak mudah dilakukan.
  • Group besar yang mendaki secara bersamaan pada umumnya memiliki sweeper yang tidak cukup banyak.
  • Faktor lengah, teledor, dan lalai dalam group dengan jumlah pendaki yang banyak pada umumnya memiliki kemungkinan yang lebih besar dibandingkan group dalam jumlah yang lebih kecil.
  • Group besar bergerak lebih lambat
  • Group besar cenderung bergerak secara berkelompok yang umumnya tanpa memiliki komando yang jelas.

Kesalahan Memahami Berbagai Kejadian di atas Gunung

pendaki gunung hilang

Oya, Sobat Akasaka, apakah kamu masih sering mendengar berita tentang para pendaki yang kerasukan di atas gunung?

Nah, ini menjadi salah satu hal yang menarik ketika para pendaki dengan pemikiran yang modern dan sudah mendapat cukup banyak pengetahuan, seringkali masih mengkorelasikan segala sesuatu yang terjadi di atas gunung sebagai bagian dari campur tangan supranatural.

Sebagai masyarakat yang terbiasa dengan budaya klenik nan mistik, hal semacam ini tentu bisa dipahami. Apalagi landasan dari segi agama dan keyakinan juga memberikan pijakan yang kuat mengenai hal ini.

Akan tetapi yang menjadi permasalahan kemudian adalah; jika pemikiran tentang mistis dan supranatural jauh lebih mendominasi dibandingkan ketakjuban akan alam raya dan penciptaannya itu sendiri. Maka ini akan menggiring banyak orang untuk keliru dalam memahami konsepsi gunung yang sebenarnya.

pendaki gunung hilang

Kamu akan lebih tertarik memikirkan berbagai macam kejadian aneh dan makhluk gaib dibandingkan perenunganmu terhadap keagungan Tuhan itu sendiri dalam gunung-gunung yang kamu daki. Atau kamu akan lebih antusias mendengar cerita hantu, tempat angker, puncak misterius, dan berbagai hal berbau mistis lainnya, dibandingkan memfokuskan dirimu selama pendakian pada luhurnya penciptaan alam dan gunung-gunung yang kamu kunjungi itu sendiri.

Konsepsi yang salah tentang dunia gaib atau apa pun sebutannya di atas gunung, kemudian mengkristal menjadi semacam sugesti yang tanpa sadar diyakini, adalah sesuatu yang memprihatinkan. Dan itu pada banyak kejadian, memberi sumbangsih dalam banyak kisah pendaki gunung hilang di gunung Lawu, gunung Merapi, gunung Semeru, dan gunung-gunung lainnya di Indonesia.

Faktor Eksternal atau Faktor X

pendaki gunung hilang

Penyebab ketujuh atau yang terakhir tentang seringnya kejadian pendaki gunung yang hilang adalah karena faktor eksternal. Faktor yang satu ini benar-benar berada di luar kendali si pendaki itu sendiri, bisa karena faktor alam, lingkungan dan lain sebagainya.

Pendaki yang hilang karena tertimpa longsoran salju, pendaki yang terjatuh karena dihempas badai, atau pendaki yang ditimpa oleh bebatuan runtuh, adalah beberapa contoh bagaimana faktor eksternal dari alam membuat pendakian berubah menjadi muram. Hilangnya 3 orang pendaki top dunia di gunung K2 pada bulan Februari 2021 ini adalah salah satu contoh nyata dari faktor eksternal ini.

pendaki gunung hilang

Menariknya, ada juga pendaki hilang ditemukan selamat meskipun penyebabnya adalah faktor eksternal. Jika kamu pernah membaca kisah survivalnya Nando Parrado dalam Miracle in Andes, atau kisah bertahan hidupnya Joe Simpson dalam kejadian legendaris Touching the Void, maka itu adalah salah satu contoh paling nyata bagaimana pendaki gunung tetap dapat bertahan hidup meskipun didekap oleh faktor eksternal ini sedemikian erat.

Faktor X adalah sesuatu yang sama sekali tidak dapat kamu perhitungkan sebelumnya. Hanya saja untuk meminimalisir risikonya, kamu dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi segala macam tantangan yang mungkin saja akan terjadi ketika kamu mendaki gunung nantinya.

BACA JUGA:

Pendaki gunung hilang

Nah, Sobat Akasaka, sembari menunggu situasi untuk mendaki gunung kembali seperti sediakala dan pandemi Covid-19 segera berakhir, kamu bisa mempersiapkan diri untuk mendaki gunung sebaik mungkin. Persiapannya bisa kamu lakukan dengan menambah lebih banyak wawasan tentang pendakian, atau pun menambah berbagai perlengkapan penting selama mendaki gunung.

Sambil mempersiapkan diri, ternyata kamu juga bisa mendapatkan berbagai produk untuk mendaki gunung terbaik di Akasaka Outdoor, lho. Sandal gunung paling tangguh untuk iklim Indonesia yang lembab dan basah, jaket mendaki gunung yang ringan dan hangat, atau mungkin carrier ukuran medium yang memiliki garansi selama satu tahun penuh. Semuanya bisa kamu dapatkan di www.akasakaoutdoor.co.id

Supaya lebih jelas dan kamu dapat memilihnya langsung, yuk, cek berbagai produk terbaik dari Akasaka outdoor melalui tautan di bawah ini.

Dengan produk-produk mendaki gunung terbaik dari Akasaka, setidaknya kamu bisa lebih siap menghadapi segala risiko di atas gunung, termasuk risiko yang seringkali membuat pendaki gunung hilang karena kurangnya persiapan dari segi peralatan mendaki yang memadai.

KLIK DISINI UNTUK BERBAGAI PRODUK OUTDOOR TERBARU UNTUK MEMBERI KAMU PERLINDUNGAN LEBIH SEMPURNA SELAMA MENDAKI GUNUNG

 

 

 

Leave a comment

All comments are moderated before being published