Pendaki Wajib Tahu! Kenali Berbagai Penyakit Saat di Dataran Tinggi

Mendaki dan menaklukkan puncak gunung memang membawa kenikmatan tersendiri bagi setiap pendaki. Namun, dibalik keseruan itu ada penyakit yang harus diwaspadai. Sobat Akasaka seorang pendaki? Kenali berbagai penyakit saat di dataran tinggi agar Anda terhindar dari bahaya.

Altitude sickness atau yang biasa disebut penyakit ketinggian, umumnya terjadi pada ketinggian lebih dari 2000 mdpl, saat persediaan oksigen mulai menipis. Penyakit ini berakibat fatal jika tidak segera ditangani dengan baik. Ada tiga bentuk penyakit ketinggian, antara lain:

 

Penyakit Gunung Akut atau Acute Mountain Sickness

 

Terjadi karena adanya akumulasi cairan di sekitar otak. Biasanya muncul setelah 12 jam pendakian. Penyakit ini ditandai dengan gejala pusing, mual, muntah, susah tidur, cepat lelah, kehilangan nafsu makan, dan sakit perut.

Cara mengatasi penyakit ini adalah dengan turun ke ketinggian yang lebih rendah, setidaknya hingga ketinggian 1500 mdpl. Kemudian lakukan terapi oksigen, konsumsi obat-obatan penghilang mual dan pusing, minum banyak cairan, dan beristirahat total hingga kondisi tubuh pulih. Penderita boleh melanjutkan pendakian kembali setelah kondisinya benar-benar pulih.

 

Edema Otak Dataran Tinggi

 

Edema otak dataran tinggi, atau istilah medisnya High Altitude Cerebral Edema, terjadi karena adanya akumulasi cairan di sekitar dan di dalam otak. Kemunculan penyakit ini ditandai dengan munculnya sakit kepala yang parah, kehilangan kemampuan koordinasi fisik (ataksia), penurunan kesadaran, mual dan muntah, perubahan perilaku, mengalami halusinasi, dan penglihatan ganda.

Cara paling efektif untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan turun dari ketinggian sesegera mungkin. Berikan oksigen dan obat penghilang nyeri sementara, meski obat tersebut tidak memberikan banyak perubahan pada kondisi penderita.

 

Edema Paru Dataran Tinggi

 

Akumulasi cairan di paru-paru menjadi penyebab terjadinya High Altitude Pulmonary Edema atau edema paru dataran tinggi. Indikasi terjadinya serangan penyakit ini adalah penderita mengalami sesak napas. Selain bisa menyerang pada malam kedua setelah berada pada ketinggian lebih dari 2000 mdpl, penyakit ini juga bisa menyerang seseorang saat perjalanan turun. Oleh karenanya, penyakit ini termasuk yang paling berbahaya dan paling mematikan di antara penyakit ketinggian.

Gejala-gejala yang muncul ketika seseorang mengalami edema paru ini, antara lain: sesak napas, batuk kering, dan kelelahan. Sesak napas dialami penderita secara bertahap, awalnya napas penderita lebih terengah-engah dari biasanya dan membutuhkan waktu lebih lama untuk normal kembali. Kemudian penderita akan mengalami sesak napas saat mendaki yang juga membutuhkan waktu lama untuk normal kembali. Penderita juga mengalami sesak napas ketika beristirahat. Puncaknya, penderita tetap mengalami sesak napas meskipun dalam kondisi berbaring.

Penderita edema paru sebaiknya dibawa turun gunung secepat mungkin untuk mendapatkan pertolongan medis. Pemberian oksigen mungkin dapat dilakukan, namun tidak akan banyak menolong penderita karena yang dibutuhkan adalah obat untuk melebarkan pembuluh darah paru-paru. Segera bawa turun penderita menggunakan Gamow Bag, tas besar yang biasanya digunakan untuk mengangkut penderita edema otak atau edema paru dataran tinggi.

Mencegah Penyakit Ketinggian

Serangan ketiga penyakit ketinggian di atas dapat dicegah dengan cara berikut ini:

  • Mendaki secara perlahan. Biarkan tubuh Sobat Akasaka beradaptasi terlebih dahulu dengan lingkungan.
  • Hindari tidur pada ketinggian 2800 mdpl di malam pertama Anda mendaki.
  • Dirikan tenda pada ketinggian sekitar 1500 mdpl untuk beristirahat selama beberapa hari sebelum melanjutkan pendakian dengan cepat.
  • Meski puncak gunung dapat diraih dalam waktu satu hari, sebaiknya tetap bermalam pada ketinggian 1500 mdpl.

Penyakit ketinggian dapat mengakibatkan kematian jika tidak segera ditangani dengan baik. Kenali beberapa penyakit saat di dataran tinggi beserta cara penanganannya adalah modal yang harus dimiliki setiap mendaki. Karena medan pegunungan yang sulit dijangkau, pertolongan pertama yang tepat adalah satu-satunya cara yang dapat diandalkan.

Leave a comment

All comments are moderated before being published