FATAL!10 KASUS AKLIMATISASI MANUSIA BERUJUNG MAUT DI ATAS GUNUNG

aklimatisasi manusia

Dalam dunia pendakian gunung, aklimatisasi bukan sekedar kata untuk memperkaya literasi mountaineering semata. Aklimatisasi manusia di atas gunung adalah kebutuhan mutlak bagi para pendaki yang bermaksud mencapai ketinggian yang signifikan. Tanpa adanya aklimatisasi, risiko fatal seringkali terjadi.

Nah, untuk kamu yang masih bertanya-tanya seberapa signifikan pengaruh aklimatisasi bagi seorang pendaki gunung, Akasaka Journal akan mengulasnya kali ini.

Jadi, dibaca sampai tuntas, ya.

BACA PULA:

10 Contoh Kasus Kematian di Atas Gunung karena Pengaruh Aklimatisasi Manusia yang Salah

aklimatisasi manusia

Aklimatisasi pendaki gunung tentu bukan hal yang baru kamu dengar, kan?

Untuk gunung-gunung dengan ketinggian signifikan, pendakian sama sekali tidak disarankan jika tanpa proses aklimatisasi. Bila kemudian dipaksakan, rentetan risiko fatal akan sangat lumrah menjadi konsekuensinya.

Dalam catatan dunia pendakian gunung, sudah sangat banyak pendaki yang meregang nyawa dikarenakan aklimatisasi semacam ini. Medan pendakian berat dengan cuaca yang tidak dapat diprediksi, memaksa manusia di atasnya untuk mencapai titik batas kemampuan fisik mereka.

Sebelum melihat beberapa contoh fatality cause akibat aklimatisasi yang salah di atas gunung, yuk, kita merefresh definisi dari aklimatisasi itu sendiri.

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan aklimatisasi?

Pengertian Aklimatisasi

aklimatisasi manusia

Dalam Wikipedia, aklimatisasi diartikan sebagai sebuah proses dan upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi dari suatu organisme terhadap satu lingkungan baru yang akan dimasukinya.

Berdasarkan pengertian ini, aklimatisasi tentu saja tidak hanya terjadi pada mannusia. Makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan memerlukan istilah dan proses ini. Contoh yang paling populer misalnya adalah aklimatisasi ikan yang baru dipindahkan dari kolam pembibitan menuju kolam yang lebih besar.

Contoh lain terkait aklimatisasi makluk hidup adalah pada tanaman anggrek. Anggrek yang diambil dari hutan membutuhkan penyesuaian lingkungan terlebih dahulu ketika akan dipindahkan ke media taman baru. Proses aklimatisasi ini biasa disebut sebagai aklimatisasi anggrek.

Aklimatisasi dalam Pendakian Gunung

aklimatisasi manusia

Ada perbedaan lingkungan yang sangat tajam pada ketinggian gunung. Di gunung-gunung tinggi, kandungan oksigen menurun dengan drastis bahkan hingga mencapai sepertiga dari kadar yang ada di dataran rendah.

Kamu tentu bisa membayangkan bagaimana sulitnya bernapas pada ketinggian seperti itu, bukan?

Di atas gunung dengan ketinggian mencapai 8.000 meter seperti Everest, tekanan udara hanya sekitar 30% dari tekanan udara normal di dataran rendah. Kondisi ini memaksa paru-paru dan organ vital tubuh untuk bekerja lebih keras. Buruknya, tanpa pasokan oksigen yang cukup, kondisi ini berakibat sangat fatal.

Ketinggian di atas 8.000 meter dalam istilah dunia pendakian gunung disebut death zone (zona kematian). Death zone adalah ketinggian dimana mayoritas pendaki mengalami masalah serius pada kesehatan mereka. Meskipun menggunakan tabung oksigen tambahan sebagai bantuan bernapas, prosesnya tetap sangat berisiko jika dilakukan tanpa aklimatisasi.

Semakin kompleks lagi karena udara bukanlah tantangan satu-satunya di atas death zone. Medan yang sulit, badai yang mengamuk dan suhu yang melorot hingga minus puluhan derajat celcius, akan membuat pendakian gunung berubah menjadi sebuah mimpi buruk.

10 Contoh Kasus Fatal di Atas Gunung Akibat Proses Aklimatisasi

Nah, untuk mempertegas pentingnya aklimatisasi suhu tubuh dalam pendakian gunung ini, berikut 10 contoh kasus yang dapat diambil sebagai pelajaran yang berharga.

Kematian Benoit Chamoux di Gunung Kangchenjunga Tahun 1995

aklimatisasi manusia

Dalam buku trilogi One Last Climb yang ditulis oleh Anton Sujarwo, kamu akan mendapat kisah kematian pendaki besar dari Perancis ini dalam sebuah jilid yang berjudul; Kompetisi Maut Podium Ketiga.

Tahun 1995 Benoit Chamoux datang ke Kangchenjunga bersamaan dengan pendaki besar dari Swiss bernama Enhard Loretan. Baik Chamoux mau pun Loretan, sama-sama berambisi untuk mencapai puncak Kangchenjunga yang merupakan puncak gunung tertinggi ketiga di dunia setelah Everest dan K2.

Ambisi ini semakin berkecamuk ketika rekor Mahkota Himalaya atau pendakian 14 puncak tertinggi di dunia baru diisi oleh dua orang yakni; Reinhold Messner dari Italia dan Jurek Kukuczka dari Polandia. Siapa pun nanti di antara Enhard Loretan dan Beenoit Chamoix yang berhasil mencapai puncak Kangchenjunga pertama kali, secara otomatis akan menjadi yang ketiga dalam prestasi bergengsi tersebut.

Chamoux pun ngebut melakukan pendakian karena takut kalah cepat dengan Loretan yang sudah lebih tiba lebih dulu. Namun karena belum cukup beraklimatisasi seperti Loretan, Benoit Chamoux akhirnya mengalami penyakit ketinggian, menghilang dan dipastikan tewas di sekitar puncak Kangchenjunga.

Kematian Art Gilkey di Gunung K2 Tahun 1953

aklimatisasi manusia

Contoh kasus fatal proses aklimatisasi pendaki gunung selanjutnya terjadi pada tahun 1953 dalam sebuah ekspedisi Amerika di gunung K2 yang dipimpin oleh Charles Houston. Dalam peristiwa ini sendiri nantinya, seorang pendaki gunung bernama Art Gilkey mengalami penyakit ketinggian yang parah dan terpaksa diturunkan bersama-sama.

Rangkaian peristiwa ini kemudian menghadirkan sebuah legenda mountaineering yang terkenal bernama The Belay. Kamu tentu saja dapat membaca informasi lengkap tentang hal ini dalam buku-buku mountaineering yang ditulis oleh Anton Sujarwo.

Penyakit Art Gilkey sendiri meskipun tidak seratus persen disebabkan oleh kesalahan aklimatisasi, namun tidak dapat ditepis bahwa ketinggian gunung K2 adalah yang membuatnya semakin parah.

Kematian Scott Fischer di Gunung Everest Tahun 1996

aklimatisasi manusia

Hayo, kamu pasti tahu dengan legenda yang satu ini, bukan?

Yap. Scott Fischer adalah pendaki gunung dari Amerika Serikat yang tewas di Everest pada tahun 1996 bersama dengan nama besar lain seperti Rob Hall dan Yasuko Namba. Penyebab utama kematian Fischer adalah High Altitutude Cerebral Edema atau HACE.

HACE sendiri adalah sebuah penyakit ketinggian dimana kekurangan pasokan oksigen yang menyebabkan kegagalan fungsi otak. Pendaki gunung yang terserang HACE akan berprilaku aneh karena memang sistem syarafnya tidak lagi bisa berfungsi normal.

Nah, jika kamu pernah membaca bagaimana kisah kematian Scott Fischer di Everest, ia juga mengalami hal tersebut.

Kematian Tomek Mackiewicz di Gunung Nanga Parbat Tahun 2018

aklimatisasi manusia

Nama Tomazs Mackiewicz atau Tomek Mackiewicz dan Nanga Parbat tak bisa dipisahkan, terutama jika kamu membahasnya dari sudut pandang sejarah musim dingin. Tomek adalah pendaki gunung pertama di dunia yang berani mendaki Nanga Parbat pada musim dingin dengan cara alpine style.

Tahun 2018 Tomek berpartner dengan pendaki wanita Perancis bernama Elizabeth Revol. Setelah tujuh kali gagal dalam berbagai upayanya di musim dingin, tahun itu Tomek dan Revol berhasil mencapai puncak gunung Nanga Parbat yang dikenal juga sebagai Si Gunung Pembunuh.

Malangnya kemudian, kondisi yang lelah dan problem aklimatisasi yang sudah diluar batas kemampuannya tubuhnya, menjadikan Tomek mengalami penyakit ketinggian yang parah. Sewaktu ditinggal oleh Revol saat itu, Tomek dalam kondisi snowblind, frostbite dan juga megalami gejala edema.

Kematian Gunther Messner di Gunung Nanga Parbat Tahun 1970

aklimatisasi manusia

Secara umum penyebab kematian Gunther Messner adalah disapu longsoran saat berusaha turun dari puncak Nanga Parbat melalui sisi Diamir Face.

Akan tetapi, tahukah kamu apa yang terjadi sebelum longsoran di tebing itu menyapu tubuh lelahnya?

Gunther telah memporsir tenganya terlalu jauh saat berusaha mengejar Reinhold Messner yang melakukan serangan puncak secara solo. Gunther memang berhasil mengejar Reinhold, namun itu membuatnya melewati tahap aklimatisasi yang seharusnya tidak akan menjadi masalah seumpama ia tidak mengambil risiko semacam itu.

Jadi, ada masalah aklimatisasi suhu tubuh yang drastis sehingga membuat Gunther tidak mampu  bertahan lebih lama. Dengan kondisi tubuh lelah, tanpa makanan dan minuman dalam beberapa hari, Gunther kehilangan konsentrasi dan itu membuatnya dengan mudah tersapu longsoran di gunung itu.

Alan Rouse dan Julie Tullis di Gunung K2 Tahun 1986

aklimatisasi manusia

Tahun 1986 menjadi tahun yang penting di gunung K2. Pada tahun itu, ada banyak pendaki  yang mengalami hari naas dan kehilangan nyawa mereka di atas Savage Mountain.

Beberapa nama yang cukup terkenal dan tewas pada tahun itu misalnya adalah Julie Tullis dan Alan Rouse dari Inggris. Kedua pendaki itu tewas di Camp IV setelah beberapa hari terjebak badai bersama dengan pendaki yang lain seperti Dobroslawa Miodowicz, Maurice Barrard dan Liliane Barrard.

Kematian yang menimpa Julie Tullis dan Alan Rouse pada hakikatnya bukan hanya karena aklimatisasi yang keliru. Akan tetapi keduanya tewas setelah tubuh mereka tidak mampu lagi bertahan dengan ketinggian cuaca gunung K2 yang ekstrim dan kejam.

Wanda Rutkiewicz di Gunung Kangchenjunga Tahun 1992

aklimatisasi manusia

Penyebab kematian Wanda Rutkiewicz dan Benoit Chamoux mungkin tidak benar-benar sama persis. Akan tetapi proses kematian dan tempat terakhir mereka diketahui masih hidup, mungkin sama yakni; puncak Kangchenjunga.

Kemampuan fisiologis Wanda Rutkiewicz mencapai batasnya ketika pendaki gunung wanita dari Polandia itu memaksa untuk terus bertahan di wilayah puncak Kangchenjunga terlalu lama. Saran pendaki gunung Meksiko bernama Carlos Carsolio yang mengajaknya untuk turun selagi masih sempat, tak digubris oleh Wanda.

Wanda akhirnya tewas setelah kekuatan tubuhnya tidak lagi mampu bertahan di atas cuaca bengis gunung tertinggi ketiga di dunia tersebut.

Kematian Vladimir Bashkirov di Gunung Lhotse Tahun 1997

aklimatisasi manusia

Sahabat dekat Vladimir Bashkirov di atas gunung salah satunya adalah Anatoli Boukreev, pendaki gunung terkenal dalam film Everest 2015 yang juga menjadi pemandu ekspedisi Kopassus di Everest tahun 1997. Bahkan Baskirov dan Anatoli bekerjasama pada saat menjadi guide ekspedisi Indonesia ketika itu.

Setelah tugas yang berat di Everest selesai, Bashkirov dan Anatoli memutuskan untuk beristirahat di Kathmandu selama beberapa minggu. Keputusan ini diambil sebagai persiapan ekspedisi Rusia ke puncak Lhotse Tsar beberapa waktu kemudian.

Namun ternyata keputusan ini membuat tubuh mereka yang telah terbiasa dengan ketinggian gunung menjadi mengendur. Efek aklimatisasi itu kemudian berdampak sakit yang cukup serius bagi Bashkirov sehingga ia tewas pada perjalanan turun dari puncak Lhotse.

Jose Antonio Delgado di Gunung Nanga Parbat Tahun 2006

aklimatisasi manusia

Karena kekuatannya yang mengesankan di atas gunung, Jose Antonio Delgado lebih dikenal dengan sebutan El Indio bagi publik Venezuela. Ia adalah salah satu pendaki gunung yang paling berhasil dari Amerika Latin.

Tahun 2006 El Indio mendaki gunung Nanga Parbat di Pakistan dan pada perjalanan turun terjebak badai sehingga terpaksa bertahan selama beberapa hari di Camp IV.

Dipaksa bertahan di atas ketinggian gunung dengan kondisi yang lemah dan tanpa makanan, akhirnya membuat tubuh El Indio menjadi rapuh. Tak lama kemudian enam orang tim penyelamat Pakistan yang dikirim untuk menjemputnya menemukan tubuh El Indio sudah tidak bernyawa.

Inaki Ochoa de Olza di Annapurna tahun 2008

aklimatisasi manusia

Contoh terakhir terkait aklimatisasi pendaki gunung yang berujung bencana terjadi pada pendaki gunung Spanyol bernama Inaki Ochoa de Olza. Inaki tewas saat berusaha mencapai puncak Annapurna melalui sisi selatan gunung yang diklaim sebagai yang paling berbahaya di Himalaya.

Inaki kemudian jatuh sakit di Camp IV dan terpaksa ditinggal turun oleh teman mendakinya yang lain seperti Horia Colibasanu dari Bulgaria dan Alexei Bolotov dari Rusia.

Sebelum meninggalkan Inaki, Colibasanu sempat meminta bantuan kepada pendaki gunung lain di Annapurna. Pendaki gunung yang merespon permintaan bantuan itu kemudian adalah Ueli Steck dari Swiss.

Sayangnya meskipun sempat mendapat pertolong dari Steck, pada akhirnya nyawa Inaki Ochoa juga tidak tertolong lagi. Ia tewas di pangkuan Ueli Steck tak lama kemudian.

BACA JUGA:

aklimatisasi manusia

Nah, itu adalah 10 contoh aklimatisasi manusia dalam dunia pendakian gunung. Setelah melihat fakta ini kamu pasti sepakat bahwa dunia mountaineering adalah ranah aktivitas yang paling berbahaya, bukan?

Oh ya, sebagai saran terakhir terkait aklimatisasi, sebaiknya pahami sinyal dari tubuhmu sendiri, ya. Jangan memaksakan diri jika itu memang sudah menjadi batasan fisik manusia, karena sesuatu yang dipaksakan, biasanya tidak akan berakhir dengan bahagia.

YUK, DAPATKAN PRODUK TERBARU DARI AKASAKA OUTDOOR DISINI

Baca Ini Juga Yuk!

27 KATA-KATA PENDAKI PALING TERKENAL SEPANJANG MASA, KAMU SUKA YANG MANA?
27 KATA-KATA PENDAKI PALING TERKENAL SEPANJANG MASA, KAMU SUKA YANG MANA?
Kamu pastinya sudah sering membaca kata-kata pendaki yang puitis dengan diksi-diksi melankolis sebagai caption di instagram, bukan? Atau mungkin kamu juga menemukan secara langsung kata-kata pendak...
Read More
10 REKOMENDASI SANDAL HITAM UNTUK MENDAKI GUNUNG YANG PALING TANGGUH
10 REKOMENDASI SANDAL HITAM UNTUK MENDAKI GUNUNG YANG PALING TANGGUH
  Jadi, Sobat Akasaka suka sandal gunung warna hitam, ya? Nah, pas banget kalau begitu karena dalam artikel kali ini secara khusus Akasaka Journal akan memberi 10 rekomendasi sandal hitam untuk be...
Read More
INI PANDUAN LENGKAP MEMILIH TREKKING POLE YANG TERBAIK
INI PANDUAN LENGKAP MEMILIH TREKKING POLE YANG TERBAIK
Meskipun bukan perlengkapan wajib dalam aktivitas mendaki gunung, trekking pole atau hiking pole adalah salah satu perlengkapan yang penuh dengan manfaat. Alat satu ini tidak hanya memberimu kenyam...
Read More

Leave a comment

All comments are moderated before being published