Edelweiss, Bunga Abadi yang Tidak Boleh Dimiliki

Edelweiss merupakan salah satu flora cantik yang banyak ditemukan di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Di Indonesia, bunga ini bisa kita lihat di kawasan pendakian seperti Gunung Gede, Rinjani, Merbabu, atau Bromo. Bunga tersebut juga dikenal dengan nama bunga keabadian.

Meskipun tergolong flora hampir langka, belakangan banyak sekali oknum yang mengaku pecinta alam tetapi berani memetik bunga cantik ini. Biasanya yang memetik adalah mereka yang tidak begitu mengerti tentang pentingnya keberadaan edelweiss di pegunungan.

Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa alasan, begitu pula dengan bunga keabadian ini. Bunga putih bertangkai pendek tersebut merupakan salah satu tanaman yang mampu menahan rintik air hujan dan mencegah erosi di pegunungan. Mencabut bunga ini secara semena-mena merupakan salah satu tindakan tercela karena perbuatan tersebut akan mengganggu proses penyebaran serbuk sari.

 


Edelweiss - Tribunnews

 

Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin lima atau sepuluh tahun lagi edelweiss hanya tinggal nama. Tanaman ini akan punah karena keserakahan manusia yang tidak tahu pentingnya menjaga lingkungan. Meskipun tidak tertulis secara hukum, tidak memetik bunga ini merupakan salah satu aturan dan tips di gunung yang harus dipatuhi.

Membawa pulang bunga ini setelah melakukan pendakian mungkin bisa menjadi hal untuk disombongkan, tetapi jangan pernah berbangga. Karena tindakan memetik bunga tersebut bukanlah hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia terutama para pendaki yang menyebut diri mereka sebagai pecinta alam.

 


Edelweiss - tipsperawatancantik

 

Nah, sobat Akasaka! Untuk memupuk rasa cinta kita pada bunga abadi yang semakin lama semakin langka keberadaannya itu, ada baiknya kita mengetahui beberapa fakta menarik tentang bunga edelweiss. Penasaran apa saja fakta tersebut? Mari kita simak uraiannya di bawah ini!

  1. Julukan bunga abadi disematkan untuk edelweiss karena pada bunga ini terdapat hormon yang membuat kelopaknya tidak mudah rontok dalam kondisi apapun.

  2. Bunga edelweiss di Indonesia berbeda dengan yang ditemukan di luar negeri. Di sini bunga tersebut memiliki nama latin Anaphalis Javanica, sedangkan di luar negeri yang dimaksud sebagai bunga abadi adalah Leontopodium Alpinum

  3. Bunga abadi Leontopodium Alpinum merupakan simbol kebanggan negara Austrian dan dijadikan sebagai bunga nasional negara tersebut

  4. Sebagai upaya pelestarian, petani di kawasan dataran tinggi Dieng membudidayakan bunga ini secara aktif. Tidak heran jika di sana kita bisa hamparan ladang  edelweiss. Berbeda dengan yang hidup di alam liar, bunga hasil budidaya cenderung lebih tebal dan subur. Warnanya pun lebih variatif, yaitu putih kecokelatan akibat pewarna buatan

  5. Karena saking langkanya, pada pendakian Gunung Leuser dari Kedah, bunga ini baru bisa dilihat di ketinggian 2891 mdpl atau setelah pendaki menempuh dua hari perjalanan. Bunga tersebut baru bisa dilihat lagi jika kita melanjutkan pendakian ke puncak yang memakan waktu sekitar 5 hingga 7 hari kemudian

  6. Pada tahun 2003, bunga ini pernah dijadikan gambar perangko Rp3.000 resmi dari PT Pos Indonesia

  7. Bunga abadi tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1819 oleh George Carl Reindwardt di lereng Gunung Gede Pangrango

  8. Tahun 1965, pada film The Sound of Music ada lagu yang bercerita tentang keindahan dan kejaiban bunga ini

  9. Bunga cantik berkelopak putih tersebut bisa tumbuh di ketinggian sekitar 2000 mdpl ke atas

  10. Tumbuhan ini biasanya berbunga saat musim hujan berakhir, yaitu sekitar bulan April hingga September

Jadi, masih mau memetik bunga indah ini dan membawanya pulang? Daripada memetik dan membawa bunga ini turun gunung, lebih baik jika kamu mengabadikannya ke dalam sebuah foto.

Nah, bagi sobat Akasaka yang hobi naik gunung dan menikmati keindahan bunga abadi tersebut dari dekat, jangan lupa untuk menggunakan perlengkapan outdoor dari Akasaka demi pengalaman mendaki yang seru dan menyenangkan. Selamat menjelajah dan jangan pernah lalai untuk senantiasa menjaga lingkungan.

Leave a comment

All comments are moderated before being published