5 FILM PENDAKIAN GUNUNG TERPOPULER YANG PERNAH DIBUAT

Film pendakian gunung terbaik
Source image: mailbolder

 

Setiap orang yang memutuskan untuk mendaki sebuah gunung, tentunya memiliki dorongan yang beraneka ragam. Ada yang sekedar ikutan teman-temannya, mengikuti trend yang sedang berkembang, atau pun hanya untuk menjawab rasa penasaran dalam dirinya sendiri. Namun selain itu, ada juga yang termotivasi karena menonton film pendakian gunung yang mungkin membuatnya jadi terinspirasi.

Di Indonesia sendiri, salah satu yang menjadi penyulut ramainya antusiasme keinginan mencoba mendaki gunung adalah dengan hadirnya sebuah film remaja yang penuh romantisme, namun ber-setting sebuah gunung paling terkenal di Tanah Jawa. Dan film inilah yang paling banyak di tuding sebagai inspirator para pendaki gunung yang membludak saat ini. Terlepas dari benar atau tidak, namun yang jelas film itu memang telah ikut memberi kontribusi yang besar untuk aktivitas dunia pendakian gunung di Tanah Air.

Terkait dengan hal itu, kali ini kita akan mengulas beberapa film pendakian gunung terpopuler yang Sobat Akasaka sendiri mungkin juga pernah menontonnya. Film-film ini telah menjadi semacam ‘kekuatan inspiratif’ yang mendeskripsikan sebuah gunung dan aktivitas mendakinya sebagai sebuah perjalanan prestisius yang penuh dengan tantangan dan petualangan.

Lalu, kira-kira apa saja film mountaineering yang dimaksud? Berikut akan kita ulas satu persatu.

Beberapa Film Pendakian Gunung Terpopuler yang Pernah Dibuat

Film yang kita bahas ini adalah film yan khusus menceritakan tentang pendakian gunung, yang tema besarnya adalah memang ide tentang mendaki gunung, bukan masalah asmara, romantika, atau pun sejenisnya, seperti hal yang kadang kita temukan dalam perfilman nusantara.

Nah, apa saja film yang dimaksud. Berikut detailnya;

The North Face

Film pendakian gunung terbaik

Source image: Roger Ebert

Menyebut kata The North Face saat ini, orang-orang sudah membayangkan jaket, tas, sepatu, topi, kaos, dan berbagai pernik pendakian gunung lainnya. Ya, The North Face memang lebih identik sebagai sebuah brand outdoor internasional, alih-alih orang mengenalnya sebagai nama sebuah tebing maut dengan ketinggian menjulang yang berdiri di belahan Swiss sana.

The North Face adalah sisi utara dari sebuah gunung bernama Eiger yang menjadi ikon pendakian dunia, khususnya di Eropa. Tebing yang menjulang ini telah merengggut hampir ratusan nyawa orang-orang yang mencoba mencapai puncaknya.

Ada banyak film yang bertutur tentang si wajah utara gunung Eiger ini, namun The North Face mungkin adalah salah satu film pendakian gunung terbaik versi klasik yang patut kita saksikan.

The North Face bercerita tentang ambisi negara-negara di dunia, khususnya kawasan Eropa untuk berlomba-lomba mengirim para pendakinya memuncaki gunung tersebut untuk pertama kalinya. Ada sebuah kepercayaan bahwa keberhasilan negara mana pun dalam perlombaan gengsi dan harga diri di gunung itu, akan mampu mengangkat nama negaranya sebagai negara besar dan pemenang.

Film ini ber-setting sekitar tahun 1950-an ketika perang dunia kedua sedang berkecamuk. Pendaki yang dikirim pun merupakan para prajurit yang memang dikenal sebagai orang yang memiliki latar belakang kemapuan alpinisme. Klimaks film ini terjadi saat dua tim pendaki bersaing di dinding kematian Eiger, masing-masing tim berjumlah dua orang, tim Austria dan tim Jerman. Dan tidak ada yang berhasil dalam misi itu, semua pendaki berakhir dengan kematian.

The Eiger Sanction

film pendakian gunung terbaik

Source image: Soundcloud

 

Jonathan Hemlock yang diperankan oleh Clint Easwood yang memang dikenal gemar mendaki gunung adalah tokoh sentral film ini. Seorang pembunuh bayaran yang terikat kontrak untuk membunuh orang yang juga membunuh salah satu teman baiknya.

Identitas pembunuh sama sekali gelap, hingga diketahui bahwa sang pembunuh adalah juga seorang pendaki gunung yang akan ikut serta dalam gerakan amal mendaki gunung Eiger melalui jalur maut The North Face.

Film ini juga menarik untuk kita saksikan, meskipun kesan jadulnya sangat kentara, mulai dari penggunaan gears, teknis pendakian dan lain sebagainya. Namun dengan melihat film ini, kita juga akan belajar untuk menghormati dengan penuh, bagaimana para pemuja ketinggian dulu sungguh-sungguh bertaruh nyawa untuk mencapai impian mereka.

Helmet, sleeping bag, tenda, jaket, climbing gears, boots, teknik belaying, semuanya disupport dan  dilakukan dengan cara klasik. Sehingga dari sudut pandang saat ini, kita akan melihat betapa berbahayanya apa yang mereka lakukan.

Dan bersyukurlah kita yang hidup di zaman modern, yang kemajuan teknologi pendakiannya sudah sangat tinggi. Sehingga kata-kata push your limit yang dulu benar-benar menekan ke garis batas kemampuan manusia, beberapa alat dan teknologi telah menggantikannya pada saat ini.

Meskipun fiksi namun film pendakian gunung yang menarik ini, mungkin akan membuat kita berkhayal, seolah ikut di sana, merayapi dinding maut Eiger bersama Clint Easwood.

Touching The Void

film pendakian gunung terbaik

Source image: Barnes Noble

Kisah nyata yang diceritakan dalam Touching The Void ini, menjadi salah satu legenda abadi dalam kisah dunia mountaineering.

Bercerita tentang dua orang sahabat dengan ambisi jiwa muda yang bergelora, memutuskan mendaki sebuah gunung maut yang sepi laksana kuburan tanpa pengunjung. Dan keputusan untuk menaklukkan gunung sepi dan jauh dari incaran pendaki lainnya ini, merupakan hasil pertimbangan mereka untuk mencatatkan rekor sebagai the first man/the first duo/dan the fisrt ascent untuk sebuah tempat yang baru dan belum pernah dijamah manusia.

Memang pada masa itu para penjelajah dan para petualang, berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama dalam memuncaki sebuah ketinggian, mengekspolre sebuah kedalaman, atau reputasi sebagai yang pertama lainnya dalam hal berburu adrenaline.

Joe Simpson dan Simon Yale, dua orang sahabat tersebut memutuskan untuk mendaki sebuah gunung sepi di Pegunungan Andes, Chili. Gunung yang mereka tuju itu bernama Siula Grande, sebuah gunung yang bahkan tidak pernah dilirik oleh para pendaki gunung lainnya. Bagaimana pun juga, pendakian yang sulit dan penuh bahaya itu pun sukses, Joe dan Simon sukses memuncakinya.  Namun bukan itu yang akan menjadi legenda, perjalanan turun merekalah yang berakhir dengan bencana.

Dalam sebuah tebing curam, sebelah kaki Joe patah karena terjatuh, hingga untuk melanjutkan perjalanan turun, Simon terpaksa mem-belay-nya secara estafet. Menjelang tiba ke dasar gunung, ke sebuah padang es yang sering disebut gletser, mereka harus menuruni tebing curam yang lumayan tinggi, di tengah kepungan angin dan kabut yang menutupi pemandangan.

Joe yang di-belay oleh Simon dari atas tebing, terkatung-katung di permukaan tebing karena panjang tali yang sudah hampir habis di tangan Simon. Sekian lama tergantung pada harness dan seutas tali, ditambah kaki yang patah, membuat Joe terserang radang dingin di jari-jarinya sehingga ia tidak bisa memanjat tali untuk meraih bibir tebing, moment itu berlangsung cukup lama, hingga Joe terdiam kelelahan masih dalam posisi tergantung.

Simon yang mem-belay dari atas merasakan tekanan yang luar biasa pada pingganggnya karena menahan berat badan Joe yang tergantung. Setelah sekian lama ia menunggu dan tidak ada pergerakan, rasa lelah dan putus harapan membuatnya mengambil keputusan untuk memotong tali yang digunakannya membelay Joe. Simon berpikir Joe sudah menemui ajalnya di sana, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain menolong dirinya sendiri dengan memotong tali.

Joe yang ternyata masih bernyawa pun jatuh masuk ke dalam sebuah celah es atau crevasse. Dan kisah survival Joe Simpson di tengah kaki yang patah, tali yang  terpotong, menghadapi padang es yang luas, berjuang untuk kembali ke tenda, adalah inti dari kisah ini.

Touching the Void ditulis sendiri oleh Joe Simpson, ia juga ikut membela Simon ketika banyak kritikus dunia pendakian menyalahkannya karena memotong tali. Joe masih mendaki gunung hingga saat ini, dan legendanya bertahan hidup di Siula Grande menjadi abadi sampai hari ini.

Into Thin Air

film pendakian gunung terbaik

Source image: Earlywordl

Sebagai penulis dan juga sebagai tokoh utama, John Krakauer menginspirasi banyak orang dengan film ini. Ia menceritakan dengan detail sebuah bencana di puncak tertinggi dunia, Gunung Everest. Ketika maut merenggut hampir sepuluh nyawa dalam satu hari di gunung yang menjadi dambaan semua pendaki gunung tersebut.

Berawal dari misi mendaki Everest yang mengumpulkan beberapa orang dari berbagai negara, tim ini terbagi dua, di pimpin oleh dua guide gunung terkenal, Rob Hall dan Scott Fischer. Ada berbagai macam drama tentang perbedaan pendapat yang dituturkan dalam film ini, mulai dari ketika Scott Fischer yang kelelahan menurunkan anggota timnya yang terserang edema, kemudian Scott memaksakan diri naik lagi. Ada juga drama tentang pelanggaran hukum kebiasaan di Everest yang meminta untuk turun bagi semua pendaki jika sudah melampaui jam dua siang.

Ketika semua pendaki sudah berhasil mencapai puncak dunia yang mereka cita-citakan, perjalananan turunnya-lah yang membawa maut dan mala petaka. Mereka diterjang badai, sehingga beberapa pendaki berguguran laksana daun kering di tiup angin. Mulai dari Scott Fischer, Rob Hall, Andy Harris, Yasuko Namba, dan Doug Hanson. Sebuah kematian tragis yang memukul dengan telak jiwa seorang John Krakauer.

Ada sebuah figur hebat juga yang tampil dalam film ini, yaitu Anatoli Boukreev, seorang pendaki legendaris yang juga menjadi pemandu saat tim Kopassus Indonesia mendaki Everest untuk yang pertama kalinya. Anatoli adalah pendaki kuat dan tangguh, ia tidak menggunakan tabung oxygen dalam setiap pendakiannya. Salah satu kalimatnya yang membekas dalam upaya penyelamatan saat musibah terjadi adalah; “selamatkan yang terkuat, itu hukum gunun”

Sayangnya Anatoli Boukreev juga meninggal saat sedang mem-belay pendaki Italia bernama Simone Moro, di Annapurna I, pada tahun 1989. Saat itu, Anatoli dan fotografer ekspedisi yang mendaki bersamanya, diterjang oleh patahan cornice gantung yang terjun dan menyapu rute pendakian.

Penutup film Into thin Air pun sangat menyentuh, ditutup oleh sebuah kalimat yang di ucapkan oleh John Krakauer, ketika mereka berkumpul di depan sebuah tugu dengan bendera doa yang berkibar mengenang kematian sahabat mereka.

“Hari ini lima orang teman kita tewas, sulit untuk dipercaya, dan juga sulit untuk dimengerti. Mengapa? Untuk apa mereka mati?  Sebuah pertanyaan klasik dalam pendakian gunung. Banyak orang berpikir dengan hanya memiliki uang, peralatan dan, kebulatan tekad kita bisa menaklukkan sebuah puncak gunung, dan kita melupakan tentang bagaimana menghormati sebuah gunung”

Vertical Limit

film pendakian gunung terbaik

Source image: thedihedral

Salah satu hal yang menarik dalam film pendakian gunung K2 yang banyak di gandrungi para pendaki gunung ini adalah dengan hadirnya seorang pendaki betulan dalam sebuah adegan di film tersebut. Meskipun sang pendaki tidak turut serta dalam pendakian, namun ia sempat berbicara mengenai sedikit rencana penyelamatan dalam tema inti film fiksi ini.

Pendaki tersebut adalah Ed Viesturs, seorang pendaki gunung Amerika pertama yang berhasil mendaki 14 puncak dunia dengan ketinggian di atas 8000 meter. Bahkan tidak banyak penonton film ini yang mengetahui bahwa Ed Viesturs adalah orang yang paling berpengalaman dan memiliki reputasi dunia dalam film fenomenal tersebut.

Vertical Limit bercerita tentang penyelamatan pendaki yang terjebak avalanche di gunung paling mematikan di dunia, K2. Mungkin semua yang menyukai dunia pendakian gunung sudah hafal dengan film ini, tentang dramanya dan juga tentang jalan ceritanya.

Namun saya ingin mengajak Sobat Akasaka semua untuk khusus menyorot sebuah kalimat yang diucapkan oleh salah satu anggota team rescue tersebut yang bernama Kareem Nasher. Kalimat ini  ia ucapkan saat teman seperjalanan dalam misi penyelamatan mengejeknya, sewaktu ia sholat di punggungan gunung K2.

Begini kira-kira ucapan Kareem saat itu;

“Kita semua akan mati temanku, namun kematian bukanlah hal yang penting, apa yang kita lakukan sebelum mati adalah hal yang penting”

Selain kelima film di atas, ada beberapa film lagi yang mungkin akan membuat kita rindu untuk bermain di alam bebas. Seperti A Lonely Place To Die, High Lane, Ragnarok, Perfect Gateway yang temanya lebih ke thriller, ada juga seperti Seven years in Tibet dan Nanga Parbat yang juga menarik untuk ditonton.

Nah, untuk Sobat Akasaka sendiri tentu saja memiliki film pendakian gunung yang paling difavoritkan di antara lima film yang ada di atas. Apa pun filmnya, semoga membawa inspirasi yang positif untuk Sobat Akasaka, ya!

Oya satu lagi, sambil menonton berbagai judul film pendakian gunung terpopuler di atas, tidak ada salahnya jika Sobat Akasaka juga melihat berbagai koleksi terbaru dari Akasaka Outdoor. Jika Sobat jeli, ada salah satu perlengkapan yang digunakan dalam film tersebut yang sama persis dengan produk Akasaka satu ini.

Selamat menonton!

 

Baca Ini Juga Yuk!

MENGENAL ULTRALIGHT HIKING DAN SEPULUH PRINSIP UTAMA MELAKUKANNYA
MENGENAL ULTRALIGHT HIKING DAN SEPULUH PRINSIP UTAMA MELAKUKANNYA
Istilah pendakian ultralight adalah salah satu istilah yang cukup populer di Indonesia semenjak booming-nya aktivitas pendakian gunung. Lalu, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan ultralight hiki...
Read More
10 JALUR HIKING DI INDONESIA PALING DIREKOMENDASIKAN UNTUK KAMU COBA
10 JALUR HIKING DI INDONESIA PALING DIREKOMENDASIKAN UNTUK KAMU COBA
Ada banyak jalur hiking di Indonesia yang menjadi favorit para pendaki gunung tanah air. Di antara banyak rute hiking tersebut, ada beberapa yang dianggap sebagai yang terbaik dan istimewa. Sebagai...
Read More
5 REKOMENDASI TERBAIK DALAM MEMILIH SANDAL JEPIT GUNUNG UNTUK PENDAKIAN
5 REKOMENDASI TERBAIK DALAM MEMILIH SANDAL JEPIT GUNUNG UNTUK PENDAKIAN
Banyak pegiat alam atau pendaki gunung yang memilih sandal jepit gunung sebagai pilihan alas kaki mereka dalam bertualang. Dari sekian banyak jenis, merek dan harga, ada beberapa sandal jepit outdo...
Read More

Leave a comment

All comments are moderated before being published