Beda Traveller dan Turis Ala Akasaka - OFFICIAL AKASAKA ONLINE STORE

Beda Traveller dan Turis Ala Akasaka

5 bulan yang lalu      NEWS

Di dunia ini ada dua jenis penjelajah atau wisatawan, pertama adalah traveler dan yang kedua adalah turis. Dua penjelajah ini secara umum memiliki karakteristik yang berbeda. Bisa dibilang, perbedaannya cukup besar sehingga beberapa orang memberi label baik dan buruk pada mereka.

Untuk membedakan mana yang turis dan mana yang traveler, coba perhatikan penggolongan ala Akasaka di bawah ini ya.

 

Kemampuan menyatu dengan budaya

Kemampuan menyatu dengan budaya - Muslimvillage

 

Turis biasanya akan tempil seperti apa yang mereka inginkan. Mereka tidak peduli dengan kebudayaan sekitar dan tidak mau membaur. Bagi turis, apa yang dia bawa harus dilihat oleh orang lokal.

Traveler tidak demikian. Dengan cara apa pun mereka berlibur mau backpacker atau biasa, mereka tetap berusaha menyatu dengan penduduk sekitar. Mereka akan menyesuaikan pakaian agar tidak dianggap berbeda.

 

Apa yang dicari selama liburan

Selama liburan, turis hanya mencari apa yang dianggap terkenal. Mereka akan mendatanginya untuk sekadar melihat atau berfoto saja. Setelah itu akan kembali ke hotel atau tempat lain yang dianggap terkenal.

Yang dilakukan traveler sedikit berbeda. Mereka justru menyukai hal-hal baru dan lepas dari zona nyaman. Mereka akan mencari tempat baru dan berbaur dengan penduduk setempat. Bagi traveler, mencoba hal yang unik dan menyatu dengan penduduk tidak bisa dibeli dengan apa pun.

 

Makanan yang disantap

Makanan yang disantap - treebo

 

Traveler selalu terobsesi dengan makanan yang disantap oleh penduduk lokal. Terlepas dari rasa yang akan didapatkan mereka tidak peduli. Bagi traveler, buat apa makan ke restoran cepat saji kalau di negerinya juga ada. Lebih baik mencoba makan yang lokal, autentik, dan kalau nikmat, berarti bonus.

Selama liburan, turis akan makan apa yang disediakan oleh hotel. Mereka juga makan sesuatu yang dianggap enak. Mereka enggan menyantap sesuatu yang baru karena dianggap tidak enak dan tidak sesuai dengan standarnya.

 

Komunikasi degan penduduk lokal

Komunikasi degan penduduk lokal - picdn

 

Turis hanya akan berkomunikasi dengan orang yang dibutuhkan saja, misal pemandu wisata atau orang yang dianggap bisa menjawab pertanyaannya. Mereka cenderung diam di jalanan dan menganggap penduduk lokal seperti tidak ada.

Traveler suka berkomunikasi dengan penduduk lokal. Dengan keterbatasan pemahaman dengan kedua belah pihak, traveler tetap ingin melakukannya. Bahkan sebelum datang mereka kerap mempelajari bahasa penduduk lokal terlebih dahulu meski hanya dasar-dasarnya saja.

 

Membeli produk lokal

Turis jarang membeli produk yang dianggap tidak bagus atau sesuai dengan seleranya. Mereka juga akan datang ke toko suvenir terkenal meski harganya lebih mahal.

Traveler suka membeli di pasar tradisional. Mereka juga berusaha menawar dengan berbagai cara. Sebenarnya membeli langsung juga bisa, tapi aktivitas tawar-menawar ini memiliki kesenangan tersendiri dan jarang ditemui di daerahnya.

Traveler juga kerap membeli produk lokal yang dianggap berkualitas. Misal membeli sepatu gunung di Akasaka. Meski di negerinya sana ada yang serupa, kualitasnya bisa diadu.

 

Kepekaan dengan jalan

 

Kepekaan dengan jalan - cloudfront

 

Peta digital seperti Google Maps memang sangat membantu dalam penjelajahan. Namun, ada kalanya peta juga menyesatkan sehingga turis lebih sering kesasar karena berpatokan pada peta. Selai itu, malasnya berkomunikasi dengan penduduk lokal membuat mereka semakin kesulitan.

Traveler juga mengandalkan peta yang dimiliki. Namun, mereka juga mengandalkan insting. Terpenting lagi, traveler juga terbiasa bertanya langsung ke penduduk lokal. Jadi, kemungkinan kesasar semakin kecil.

Inilah perbedaan traveller dan turis ala Akasaka. Menurut kamu sendiri, apa perbedaan mencolok dari keduanya?




Komentar Artikel "Beda Traveller dan Turis Ala Akasaka"